Tiap individu tentu mengalami perkembangan semasa hidupnya. Baik secara fisik ataupun secara psikis. Ini yang kebanyakan orang sebut dengan tumbuh kembang. Dalam proses perkembangannya, tumbuh kembang dipengaruhi oleh banyak faktor. Dan bila dikelompokkan dalam dua kelompok besar, kita dapat memperolah dua nama : Heredokonstitusionil dan lingkungan
Faktor heredokonstitusionil. Sebuah nama yang sulit diucapkan fonetikanya, adalah satu faktor yang telah dimiliki oleh tiap individu semenjak mereka hadir dalam bentuk embrio. Menurut sumber yang saya peroleh, faktor ini berupa gen dalam nukleus dari telur yang dibuahi. Ini menjadi faktor utama- mengapa masing-masing embrio memiliki keunikannya masing-masing di kemudian hari
Faktor lingkungan sendiri dibagi lagi kedalam dua kelompok, yaitu : Pranatal dan pascanatal. Faktor pranatal adalah faktor yang diperoleh individu tersebut sebelum mereka lahir, biasanya berupa gizi, posisi janin mereka saat masih berada dalam rahim, bahkan kondisi psikologi ibu. Sedangkan faktor pascanatal atau pasca persalinan, meliputi : Kondisi lingkungan pengasuhan, gizi yang mereka peroleh (lagi), sosio ekonomi, serta stimulasi apa yang mereka dapatkan dari lingkungan mereka dibesarkan
Dari faktor-faktor tersebut, saya tergelitik untuk melihat perkembangan satu individu dari lingkungannya, lebih fokus lagi -- "Lingkungan pengasuhan".
***
Fokus utama terdapat dalam kata "Why?" bukan "What?"
Hal ini menjadi lebih menarik bagi saya, karena menurut pengamatan saya, (semoga saya tidak salah) Lingkungan Pengasuhan adalah faktor utama dalam terciptanya beberapa peribahasa seperti : "Buah jatuh, tak jauh dari pohonnya", "Guru kencing berdiri, murid kencing berlari", "Tumbu oleh tutup" dan masih banyak lagi peribahasa yang belum saya cantumkan
Dalam beberapa condition peribahasa seperti itu bisa disalahgunakan. Bahkan ada lho yang menjadikannya sebagai amunisi untuk melawan orang tua
Contoh kasus, saya pernah tahu seorang anak yang berkata kepada orang tuanya : "Asal ibu tahu. Saya jadi begini kan' karna ibu juga!. Karna didikan ibuk juga!". What? Yellow? eh ... Helow? ...
Dilihat dari segi maknawi dan sintaks yang ia rangkai, tentu anak ini bukan anak kecil lagi, bukan? Kalau anak kecil yang berkata seperti itu sih, saya bisa maklum. Lha? anak yang menyusun kalimat indah di atas itu kan' sudah tidak bisa dibilang kecil lagi - menurut saya
***
Saat satu individu telah mencapai kematangannya. Ia harus melesat seperti anak panah. Ia telah menjadi satu manusia yang utuh. (Tentunnya) Mereka telah memiliki intelejensi yang cukup dalam menentukan baik dan buruk. Mereka telah menjadi satu pribadi utuh yang siap untuk "dilepas" dalam masyarakat. Lingkungan pengasuhan - yang salah - tentu telah di-filter oleh intelejensi mereka bukan?
Menjadi dewasa, tentunya tidak dilihat dari segi usia saja. Kedewasaan lebih tercermin dalam sikab dan perilaku yang mereka lakukan. Jika hingga hari ini masih ada individu yang menyalahkan orang tua mereka atas hasil didikan yang mereka beri, mungkin, aku bisa bilang begini kepada mereka :
"Ya, buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya. Dan jika kamu tidak puas jatuh di sekitar pohon indukmu, harusnya kamu mampu menggelinding ke tempat yang lebih jauh dan tumbuh di tempat itu, serta berbuah lebih banyak"
***
PS : Genetika itu faktor ke-sekian.Tempat bertumbuh itu faktor ke-dua. Hal yang paling esensial dalam hidup adalah menentukan zat hara yang hendak kita konsumsi.
- Greal -
Sumber gambar : Foto + Edit sendiri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar