Kamis, 11 Oktober 2012

[Bukan] Salah lingkungan pengasuhan

  
Tiap individu tentu mengalami perkembangan semasa hidupnya. Baik secara fisik ataupun secara psikis. Ini yang kebanyakan orang sebut dengan tumbuh kembang. Dalam proses perkembangannya, tumbuh kembang dipengaruhi oleh banyak faktor. Dan bila dikelompokkan dalam dua kelompok besar, kita dapat memperolah dua nama : Heredokonstitusionil dan lingkungan

Faktor  heredokonstitusionil. Sebuah nama yang sulit diucapkan fonetikanya, adalah satu faktor yang telah dimiliki oleh tiap individu semenjak mereka hadir dalam bentuk embrio. Menurut sumber yang saya peroleh, faktor ini berupa gen dalam nukleus dari telur yang dibuahi. Ini menjadi faktor utama- mengapa masing-masing embrio memiliki keunikannya masing-masing di kemudian hari

Faktor lingkungan sendiri dibagi lagi kedalam dua kelompok, yaitu : Pranatal dan pascanatal. Faktor pranatal adalah faktor yang diperoleh individu tersebut sebelum mereka lahir, biasanya berupa gizi, posisi janin mereka saat masih berada dalam rahim, bahkan kondisi psikologi ibu. Sedangkan faktor pascanatal atau pasca persalinan, meliputi : Kondisi lingkungan pengasuhan, gizi yang mereka peroleh (lagi), sosio ekonomi, serta stimulasi apa yang mereka dapatkan dari lingkungan mereka dibesarkan

Dari faktor-faktor tersebut, saya tergelitik untuk melihat perkembangan satu individu dari lingkungannya, lebih fokus lagi -- "Lingkungan pengasuhan".


***

Fokus utama terdapat dalam kata "Why?" bukan "What?"

Hal ini menjadi lebih menarik bagi saya, karena menurut pengamatan saya, (semoga saya tidak salah) Lingkungan Pengasuhan adalah faktor utama dalam terciptanya beberapa peribahasa seperti : "Buah jatuh, tak jauh dari pohonnya", "Guru kencing berdiri, murid kencing berlari", "Tumbu oleh tutup" dan masih banyak lagi peribahasa yang belum saya cantumkan

Dalam beberapa condition peribahasa seperti itu bisa disalahgunakan. Bahkan ada lho yang menjadikannya sebagai amunisi untuk melawan orang tua

Contoh kasus, saya pernah tahu seorang anak yang berkata kepada orang tuanya : "Asal ibu tahu. Saya jadi begini kan' karna ibu juga!. Karna didikan ibuk juga!". What? Yellow? eh ... Helow? ...

Dilihat dari segi maknawi dan sintaks yang ia rangkai, tentu anak ini bukan anak kecil lagi, bukan? Kalau anak kecil yang berkata seperti itu sih, saya bisa maklum. Lha? anak yang menyusun kalimat indah di atas itu kan' sudah tidak bisa dibilang kecil lagi - menurut saya

***

Saat satu individu telah mencapai kematangannya. Ia harus melesat seperti anak panah. Ia telah menjadi satu manusia yang utuh. (Tentunnya) Mereka telah memiliki intelejensi yang cukup dalam menentukan baik dan buruk. Mereka telah menjadi satu pribadi utuh yang siap untuk "dilepas" dalam masyarakat. Lingkungan pengasuhan -  yang salah - tentu telah di-filter oleh intelejensi mereka bukan?

Menjadi dewasa, tentunya tidak dilihat dari segi usia saja. Kedewasaan lebih tercermin dalam sikab dan perilaku yang mereka lakukan. Jika hingga hari ini masih ada individu yang menyalahkan orang tua mereka atas hasil didikan yang mereka beri, mungkin, aku bisa bilang begini kepada mereka : 

"Ya, buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya. Dan jika kamu tidak puas jatuh di sekitar pohon indukmu, harusnya kamu mampu menggelinding ke tempat yang lebih jauh dan tumbuh di tempat itu, serta berbuah lebih banyak"

***

PS : Genetika itu faktor ke-sekian.Tempat bertumbuh itu faktor ke-dua. Hal yang paling esensial dalam hidup adalah menentukan zat hara yang hendak kita konsumsi.


- Greal -
Sumber gambar : Foto + Edit sendiri

Rabu, 10 Oktober 2012

Catatan di hari berawan

It is during our darkest moments that we must focus to see the light - Arsitotle Onassis


Ada yang pernah lihat sinar mentari di balik gumpalan awan? 

Indah bukan :)

Kira-kira cahaya itu disebut apa ya? Ada yang tau ?
Ya, cahaya itu biasa disebut dengan
cahaya crepuscular

Sedikit cerita nih :)

Terkadang kita tidak dapat tampil secerah mentari
. Ada kalanya kita tersembunyi di balik awan, tersembunyi untuk sementara waktu. Cahaya kita meredup. Ya, meredup untuk sementara waktu

Kawatir? Tidak perlu lah …

Mentari tetaplah mentari, sinarnya tak terganti. Awan gelap bukan penghalang permanen, kita masih tetap bersinar walau berada dibalik awan mendung :)



- Greal - 
Sumber gambar : Jepretan sendiri [lho..]

Sepuluh Oktober


          Hari ini 10 Oktober 2012, badan kesehatan dunia WHO mengambil tema Depression : A Global Crisis sebagai tema utama dalam Hari Kesehatan Jiwa Sedunia tahun ini. Tentunya pemilihan tema ini didasarkan pada kondisi sebagian masyarakat dunia yang menderita depresi. Bahkan banyak dari mereka yang tidak mendapatkan pengobatan yang layak ...

WHO memprediksi, sekitar tahun 2020 depresi akan menjadi penyakit yang membebani masyarakat global nomor dua setelah penyakit jantung. Di Indonesia misalnya, kondisi ekonomi menjadi faktor nomor satu penyebab tingginya angka depresi di negeri ini. 

Depresi memang tidak pandang bulu. Hampir di tiap strata sosial, usia, ataupun tingkatan ekonomi dalam masyarakat memiliki resiko yang sama untuk mengalami depresi. Oleh karena itu, saran saya, jaga pikiran kita. Jangan sampai pikiran kita rusak oleh hal-hal yang sebenarnya tidak perlu untuk kita pikirkan

Mengapa begitu? Perlu kita ketahui, bahwa dunia dalam diri kita dipengaruhi dan diatur oleh pikiran. Apa yang terjadi dalam kehidupan kita adalah manifestasi dari pemikiran. Pikiran harus tetap ada dalam kendali  kita

Pikiran hampir sama seperti perut. Ia perlu "konsumsi" untuk memenuhi tiap kebutuhan hidup kita. Maka dari itu, jaga pola 'makan' untuk pikiran kita :) isi pikiran kita dengan berbagai hal positif. Dietkan pikiran kita dengan semua hal yang tidak membangun. Dengan begitu, kita dapat terhindar dari depresi

Hari ini, 10 Oktober 2012, selamat Hari Kesehatan Jiwa Sedunia


- Greal -
Sumber gambar : Masih saya cari lagi ...

Selasa, 09 Oktober 2012

Homo Homini Lupus

Homo Homini Lupus : Man is a wolf to [his fellow] man

     Masih ingat pelajaran IPA waktu SD dulu ? dulu, materi pelajaran IPA salah satu materinya meliputi kontruksi teknologi modern yang diadaptasi dari Alam. Seperti binatang, dan beberapa spesies tumbuhan. Adaptasi konstruksi dari binatang misalnya, fondasi jembatan meniru rangka kaki ayam, pesawat terbang meniru rangka burung, dan masih banyak lagi

Setingkat lebih modern- Pada tahun 1935, Percy Shaw menciptakan reflector yang digunakan untuk menandari margin jalan, penemuan Percy Shaw ini terinspirasi dari tapetum lucidum yang sering ditemui pada sel reflector di mata kucing. Dalam buku pelajaran kewarga negaraan kita sering menemukan kalimat “bekerjasama seperti semut”. Ketika pelajaran agama pun kita banyak belajar dari alam seperti perumpamaan seorang penabur, pohon ara di tengah ladang anggur, pokok anggur dan carangnya, serta masih banyak lagi perumpamaan yang terinspirasi dari alam

Sekarang kita lihat karya alam yang menginspirasi temuan modern lainnya, Internet (interconnected networking ) dan jejaring sosial misalnya. Dapat kita lihat jika sistem kerja internet dapat digambarkan menyerupai jaring laba-laba, satu titik berangkaian dengan titik yang lain. Satu individu dihubungkan dengan individu yang lain. Jaring-jaring tak tampak ini meruntuhkan batasan-batasan informasi antar individu (tak terasa kita sudah meninggalkan era surat-menyurat) membuai kita dalam kemudahan berkomunikasi. Sekali lagi alam menginspirasi temuan modern

Kadang kita lupa kalau kita itu satu dengan alam. Kita ada, karena mereka juga ada...

***
 
Semua temuan itu sejatinya telah lama ada. Waktu yang mempertemukan antara manusia dan temuan itu hingga terjadilah “penciptaan”

Newton dan gravitasi misalnya. Jutaan lebih apel telah jatuh jauh sebelum Newton lahir. Hukum gravitasi telah terjadi jauh sebelum Newton ada. Gravitasi adalah hukum terbesar semesta, jauh sebelum Newton menemukannya. Gravitasi, satu dari ratusan temuan besar lainnya. Temuan yang sejatinya telah ada. Manusia tentu bangga atas temuan mereka itu

Kesimpulan yang dapat saya tarik dari semua itu mungkin begini : “Perlukah manusia berbangga atas apa yang mereka rasa ‘baru’?”

Virus itu ... manusia. Mereka belum sadar ...
  
*** 

Dalam dunia sains, manusia bukan makhluk pertama yang menempati bumi. Manusia ada setelah melewati rangkaian evolusi yang panjang. Jutaan makhluk hidup sudah menempati bumi jauh sebelum manusia menguasainya. Kehidupan berlangsung dengan baik jauh sebelum manusia ada. Bumi terus berevolusi, hingga tercipta banyak spesies baru termasuk manusia di dalamnya.

Relasi antara manusia dan mahluk hidup di bumi itu, dapat diumpamakan seperti Negara Api dan ketiga negara lainnya dalam Film Avatar (film animasi Amerika yang ditayangkan oleh Nickelodeon). Coba perhatikan prolog film Avatar berikut: 

Semua berjalan dengan harmoni, hingga suatu ketika semua berubah saat negara api mulai menyerang

Mirip bukan dengan kondisi bumi saat ini? Coba ganti kata “Negara api” dengan “manusia”. Maka kita akan menemukan realita. Satu realita dimana manusia menjadi virus mematikan bagi bumi dan semua mahluk di dalamnya.

Tidak cukup dengan merasa sombong atas apa yang mereka rasa “baru” temukan, manusia mulai merasa derajatnya lebih tinggi dari mahluk yang telah menempati bumi jauh sebelum mereka diam di dalamnya.
 
Puas menaklukan kingdom plantae, manusia beranjak ke kingdom animalia. Setelah itu manusia mulai menyerang sesamanya. Dengan broca area dalam otak mereka, manusia mulai dapat mengungkapkan ide-ide gila untuk menguasai bumi.

Mereka menciptakan sekat bernama “ras” untuk membedakan satu kelompok dengan kelompok lain. Cukup? Saya rasa belum, mereka menciptakan sekat lagi dengan nama “agama” beserta segala aturan di dalamnya.

Mereka mulai saling serang, tanpa mereka sadari kalau sebenarnya mereka satu dengan yang lain, satu dengan semesta ini dan manusia adalah bagian kecil dari sistem semesta yang telah bekerja sejak awal penciptaan

Kelak ketika warna primer bumi bukan lagi hijau, mereka baru sadar ... dan mulai berfikir atas semua yang telah mereka lakukan



- Greal -
Sumber gambar : Foto sendiri lho ...